Program Pengabdian Masyarakat Talenta 2025: USU Dorong Penerapan Pariwisata Berkelanjutan di Desa Tongging
Dipublish Pada
04 Agustus 2025
Dipublish Oleh
Fenny Julistine Tarigan
Desa Tongging dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Karo, berkat keindahan alamnya yang memukau, termasuk panorama Danau Toba dan kawasan Geosite Tongging yang merupakan bagian dari Geopark Kaldera Toba.
TONGGING, Waspada.co.id – Desa Tongging dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Karo, berkat keindahan alamnya yang memukau, termasuk panorama Danau Toba dan kawasan Geosite Tongging yang merupakan bagian dari Geopark Kaldera Toba. Potensi ini menjadikan Tongging sebagai titik strategis dalam pengembangan pariwisata Sumatera Utara.
Namun, seperti banyak destinasi wisata lainnya, Tongging menghadapi tantangan dalam menjaga kebersihan lingkungan, ketersediaan air bersih, pengelolaan sampah, serta stabilitas harga barang dan jasa.
Melalui pendekatan pariwisata berkelanjutan, tantangan-tantangan tersebut dapat diatasi secara sistematis dan partisipatif.
Sustainable tourism bukan hanya tentang menjaga alam, tetapi juga membangun tata kelola yang baik, memperkuat ekonomi lokal, dan melestarikan budaya masyarakat.
Disamping itu Desa Tongging memiliki modal sosial dan alam yang kuat untuk menjadi model desa wisata berkelanjutan di Sumatera Utara.
Universitas Sumatera Utara (USU) melalui Program Pengabdian Masyarakat Talenta 2025 melaksanakan kegiatan penyuluhan dan Focus Group Discussion (FGD) di Desa Wisata Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen USU dalam mendukung pembangunan desa wisata berbasis pariwisata berkelanjutan, yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan ekonomi, tetapi juga menekankan pentingnya pelestarian lingkungan, budaya lokal, dan kesejahteraan masyarakat.
Tim Pengabdian Kepada Masyarakat USU yang dipimpin oleh Prof Ir. Nurlisa Ginting M.Sc Ph.D, bersama anggota tim Dr. Wahyuni Zahrah ST MS dan Dr. Anthoni Veery Mardianta ST MT IAP serta melibatkan mahasiswa dan alumni USU yang didukung oleh perangkat Desa Tongging, Kecamatan Merek Kabupaten Karo, Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), dan masyarakat setempat.
Kegiatan ini mendapat dukungan Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Karo, Munarta Ginting SP, sebagai mitra yang menandai dukungan aktif pemerintah daerah Kabupaten Karo terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan di Tongging.
FGD yang dilaksanakan pada 2 Agustus 2025 lalu, menjadi wadah edukatif bagi masyarakat untuk memahami prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan.
Diskusi ini menekankan empat pilar utama antara lain, pertama Tata Kelola yang Transparan dan Partisipatif: Mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, pengelolaan destinasi, dan pengawasan kegiatan wisata.
Kedua, Pemberdayaan Sosial-Ekonomi: Menekankan pentingnya pelibatan warga lokal dalam aktivitas ekonomi wisata, seperti homestay, kuliner, kerajinan, dan jasa pemandu.
Ketiga, Pelestarian Budaya dan Identitas Lokal: Mengangkat nilai-nilai tradisi, cerita rakyat, dan kearifan lokal sebagai daya tarik wisata yang otentik.
Dan Keempat, Pengelolaan Lingkungan yang Bertanggung Jawab: Mendorong praktik ramah lingkungan, seperti pengelolaan sampah, konservasi air, dan pelestarian kawasan alami.
Selain itu, kegiatan ini memperkenalkan kerangka kerja Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai landasan pembangunan desa wisata.
Tiga tujuan SDGs yang menjadi fokus adalah SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan dan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Dengan memahami SDGs, masyarakat dapat melihat pariwisata sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan yang menyeluruh, bukan sekadar aktivitas ekonomi untuk mendapatkan manfaat jangka pendek.
Sebagai bentuk dukungan konkret terhadap pengelolaan wisata, Selain mengadakan penyuluhan, tim USU memasang signage informatif di kawasan Geosite Tongging.
Signage ini berisi informasi umum, instruksi, dan larangan, termasuk penanda larangan membakar sampah yang bertujuan menjaga kualitas lingkungan dan kenyamanan wisatawan.
Selain itu, brosur panduan praktik pariwisata berkelanjutan dibagikan kepada masyarakat, berisi langkah-langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti pengurangan plastik sekali pakai, pemanfaatan produk lokal, dan pengelolaan limbah rumah tangga.
Kegiatan ini juga membuka ruang dialog antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat untuk merumuskan strategi jangka panjang dalam pengembangan Desa Tongging sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan.
Kolaborasi lintas sektor ini menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pariwisata yang inklusif dan resilien.
Dalam paparannya, Prof. Nurlisa Ginting menekankan bahwa keberhasilan pariwisata berkelanjutan sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat. “Kunci keberhasilan pariwisata berkelanjutan ada pada partisipasi warga. Ketika masyarakat memahami prinsip-prinsip keberlanjutan, mereka tidak hanya menjadi pelaku ekonomi, tetapi juga penjaga lingkungan dan budaya lokal,” ujarnya.
Pemerintah Desa Tongging juga mengharapkan kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kapasitas Desa Tongging dalam mewujudkan destinasi wisata yang berdaya saing sekaligus berkelanjutan.
Diharapkan Pemerintah daerah Kabupaten Karo juga berkomitmen untuk terus mendukung inisiatif-inisiatif yang mendorong pembangunan pariwisata berbasis masyarakat.
Melalui rangkaian kegiatan ini, USU berharap Desa Tongging dapat menjadi percontohan desa wisata berkelanjutan tidak hanya di Sumatera Utara, tetapi juga bagi desa wisata lainnya. Dengan potensi alam yang luar biasa, kekayaan budaya lokal, dan semangat kolaboratif masyarakat, Tongging memiliki semua elemen untuk tumbuh sebagai destinasi yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga tangguh secara sosial, ekonomi, dan ekologis.
Ke depan, diperlukan sinergi berkelanjutan antara akademisi, pemerintah, komunitas lokal, dan pelaku usaha untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip keberlanjutan benar-benar terintegrasi dalam setiap aspek pengelolaan pariwisata.
USU berkomitmen untuk terus mendampingi dan memberikan kontribusi nyata dalam proses ini, melalui riset, edukasi, dan pengabdian masyarakat. Dengan demikian, pariwisata di Desa Tongging tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga instrumen untuk memperkuat identitas, meningkatkan kesejahteraan, dan menjaga warisan alam serta budaya bagi generasi mendatang. (wol/azr)